12 Langkah Persiapan Pernikahan

“12 Langkah Persiapan Pernikahan” merupakan tulisan yang sudah Saya persiapkan sejak lama. Awalnya Saya hanya berencana membuat satu tulisan utuh yang tidak terhubung dengan tulisan lain dalam journal Saya. Namun, Saya pikir akan lebih bermanfaat dan efektif bagi para pembaca apabila Saya menyertakan link yang menghubungkan pembaca ke journal lain seperti; ide souvenir, tempat-tempat pernikahan, dan konsep pernikahan. Sayang sekali, masa-masa pandemi membuat Saya masih belum mampu melakukan ini sepenuhnya.

So, proses penulisannya berjalan cukup lama karena banyak bahan tulisan yang harus Saya olah untuk bisa disajikan sekaligus dengan baik kepada pembaca. Saya harap, 12 langkah persiapan pernikahan ini bermanfaat sebagai gambaran maupun tuntunan yang efektif bagi setiap pasangan dalam mempersiapkan pernikahannya. Kamu tentu tidak mau kalang kabut mempersiapkan pernikahanmu, ‘kan?

Hello, my name is Jinan Ramadhan and thank you for reading my journal. I often take pictures of many people on single portrait, prewedding, and wedding. So many things that I can get from this activity. On this journal, I will tell about 12 wedding preparation steps. As a wedding and prewedding photographer, I want to share some useful tips for couples preparing for a wedding.

Happy reading !

PROLOG

“Ada yang mau diajak nikah”.

Tentu saja ! Ini langkah pertama yang patut diperhatikan. Bukankah pasangan yang memiliki kesamaan visi dan misi dengan Anda merupakan awal yang baik?

Sebelum Saya membahas 12 langkah persiapan pernikahan, Saya mulai dengan bagian prolog ini terlebih dulu.

Then, what’s next?

Proses Lamaran

Pertama, bertemu dengan kedua orangtua masing-masing pasangan terlebih dahulu. Biasanya diisi dengan perkenalan, rencana ke depan atau visi dan misi, situasi dan kondisi, kesediaan dan kesiapan untuk menerima kekurangan masing-masing pasangan apapun konsekuensinya. Ini wajib diperhatikan. Jangan anggap pertemuan ini sekadar basa-basi.

Jawaban Anda dan pasangan akan sangat berarti bagi kedua orangtua masing-masing untuk memastikan bahwa anak mereka diterima dengan baik. Sebagian orang mungkin tidak setuju dengan pendapat ini karena beranggapan bahwa kedua pasangan yang akan menikah sudah dewasa, bahkan terkesan memandang ini merupakan hal yang kekanakan. Jangan menganggap bahwa proses ini hanya sekadar formalitas. Ada harapan bahwa; “Pernikahan tidak hanya menyatukan kedua pasangan, tetapi juga dua keluarga”. Rasa empati Anda dinilai dari bagaimana menyikapi hal ini.

Mencintai pasangan dengan baik berarti menghormati orangtuanya. Menyadari hal ini berarti membuat Anda menjadi manusia yang lebih baik dalam memahami cinta. Ini bersumber dari nilai-nilai kebaikan dalam ajaran agama, dimana nilai-nilai inilah yang mendasari sebuah pernikahan. Apakah Anda menyadari hal ini? Karena kalau tidak atau bahkan tidak mau, maka Anda belum layak menikah.

Menjawab; “Ya, Saya yakin”, ketika ditanya oleh calon mertua, harus disertai dengan kesadaran bahwa Anda siap dengan segala konsekuensi di masa yang akan datang dan konsisten dengan pilihan Anda.

Mudah-mudahan point ini menjadi pengingat pada saat-saat sulit kedua pasangan termasuk perbedaan pendapat yang terjadi dalam mempersiapkan pernikahan maupun kehidupan setelah pernikahan sepanjang hayat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *