Everyday Life: Kehidupan Sehari-hariku sebagai Fotografer Profesional

Man on the front of wood wall expressing everyday life activities

Everyday Life: Banyak orang bertanya-tanya apa saja aktivitasku sebagai fotografer profesional dalam kehidupan sehari-hari. Yes, some people are curious about my everyday life. Aku akan menceritakan pengalaman bagaimana Aku mengawali profesiku sebagai fotografer profesional dan apa saja yang selanjutnya kulakukan serta kubangun hingga menjadi rutinitasku sampai saat ini.

Hello, my name is Jinan Ramadhan and thank you for reading my journal. I often take pictures of many people on single portrait, prewedding, and wedding. So many things that I can get from this activity. But in this article, I will tell about my everyday life, below. I know that my other activities on this journal doesn’t seem to have anything relations with photography. But, of course this article has relations with creative workers like me, and you too. I hope the story about my everyday life can be an inspiration for readers.

Happy reading !

Sebelum dan Setelah Ujian Magister

Beberapa bulan sebelum kelulusanku, Aku mengadaptasi tiga ide dasar untuk upaya perintisan dan pengembangan fotografiku. Aku memang tergila-gila dengan implementasi ilmuku dalam kehidupan sehari-hari. Tiga ide dasar itu adalah; konsep pertukaran capital Pierre Bourdieu, konsep agen epidemi sosial Malcolm Gladwell, serta konsep aset dan kekayaan Robert T. Kiyosaki. Mari kita bahas ketiganya.

Pertukaran Capital Pierre Bourdieu

Thesis Master pertamaku berawal dari hipotesa hubungan antara kesenian gamelan dan Indonesia sebagai komunitas yang diimajinasikan pasca era kolonialisme. Namun pada akhirnya aku mengubah haluanku ke ekonomi politik dan oleh karena itu ruang lingkup penelitianku terfokus pada pertukaran sumber daya diantara para pelaku dalam sebuah sanggar kesenian. Kerangka pemikiran dalam thesis Master keduaku dipengaruhi oleh konsep pertukaran capital milik seorang sosiolog kultural bernama Pierre Bourdieu. Baginya, “capital” merupakan konsep untuk menyebut sumber daya yang dimiliki oleh setiap orang. Sehubungan dengan tulisan ini, aku mengadaptasi dua kategori capital saja;

Pertama; cultural capital, ialah pengetahuan yang diperoleh dan dimiliki oleh seseorang melalui lingkungan terdekat seperti keluarga menyusul kemudian lingkungan terluarnya seperti sekolah, buku-buku yang dibacanya, atau pengetahuan dari pergaulan di luar keluarganya. Kedua; social capital, dimana sumber daya ini berupa lingkaran sosial yang mempermudah seseorang mendapatkan akses ke suatu pekerjaan atau informasi. Menurut Bourdieu, setiap orang memiliki dan memanfaatkan jenis capital tertentu untuk mendapatkan jenis capital lainnya. Mereka cenderung mengumpulkan atau mengoleksi jenis capital tersebut, bahkan beresiko kehilangan jenis capital tertentu demi mendapatkan jenis capital lainnya. Ide dasar ini mempermudahku memandang sekaligus mengelompokkan orang-orang dalam lingkaran sosialku ke dalam perspektif masing-masing kategori social capital dan menyusun strategi-strategi usahaku.

Ini akan berhubungan dengan konsep-konsep lain mengenai politik ekonomi yang kuketahui dan pada akhirnya menjadi basis dari aktivitas kehidupan sehari-hariku sebagai seorang fotografer profesional.

Aset, Liabilitas, dan Kekayaan Robert T. Kiyosaki

“We are called to be Architects of The Future, not it’s victims”

R. Buckminster Fuller

Quote Buckminster Fuller di atas Saya kutip dari buku karya Robert T. Kiyosaki yang berjudul “Second Chance”. Sebagai seorang pakar pendidikan finansial terkemuka di seluruh dunia, Kiyosaki sangat terinspirasi dari adagium utama seorang Fuller bahwa; Apabila manusia berpijak pada prinsip “pengetahuan sebagai kekuatan”, maka mereka mampu beradaptasi dengan persoalan hidup yang sangat dinamis dan cenderung tidak terduga. Pengetahuan membuat pemikiran setiap manusia berkembang dan mampu memprediksi apa yang kira-kira akan terjadi di masa depan. Kemampuan ini mampu membuat manusia seolah-olah menjadi arsitek yang berdaya merancang masa depan mereka dan meminimalisir atau menghindari persoalan-persoalan besar di kemudian hari, khususnya persoalan ekonomi.

Pemikiran menarik dari Kiyosaki yang lain ialah sarannya untuk menabung demi membeli aset, mengurangi atau membuang liabilitas, dan bagaimana Ia mengelompokkan kekayaan menjadi tiga jenis; primer, sekunder, dan tersier. Jadi selain memperteguh pendirianku untuk memperdalam ilmu pengetahuan sebagai salah satu aset, ide dasar Kiyosaki juga mempermudahku menyusun strategi-strategi. Misalnya; Apa saja barang-barang yang termasuk liabilitas, dan aset-aset macam apa yang harus kumiliki terlebih dahulu? Mana yang lebih menguntungkan saat ini; apakah kamera dengan sensor full-frame, atau APS-C? Atau; memprioritaskan body kamera atau lensa-lensa terlebih dahulu?

Namun, jauh sebelum Aku mengenal pemikiran Bourdieu dan Kiyosaki Aku juga sempat mengenal pemikiran Malcolm Gladwell dalam karyanya yang berjudul “The Tipping Point”.

Agen Epidemi Sosial Malcolm Gladwell

Sehubungan dengan tulisanku, dalam buku “The Tipping Point” Gladwell memaparkan tentang bagaimana tiga kategori karakter manusia mempengaruhi cara kerja gagasan, produk, pesan, dan perilaku menjadi sebuah epidemi sosial. Tiga kategori tersebut adalah Connector, Mavens, dan Salesman.

“Connector” adalah kategori orang-orang yang memiliki bakat mengenal banyak orang dari beragam latar belakang dalam lingkungan sosialnya dan aktif bersosialisasi; “Mavens”, merupakan kategori orang-orang yang memiliki beragam pengetahuan atau informasi mengenai banyak hal seperti perbedaan harga sebuah produk di tempat yang berbeda. Bahkan seseorang yang memiliki kecenderungan akademis menurut Saya juga termasuk dalam kategori ini. Mereka senang membantu orang lain dengan pengetahuan mereka, dan; “Salesman”, merupakan kategori orang-orang dengan kemampuan persuasif yang hebat dan natural.

Ide dasar ini mempermudahku memandang sekaligus mengelompokkan orang-orang dalam lingkaran sosialku ke dalam kategori social capital dan membuatku tidak segan memperluas lingkup sosialku.

Everyday Life: Kehidupan Sehari-hariku

Ide dasar dari Bourdieu, Kiyosaki, dan Gladwell yang kupaparkan di atas ternyata memiliki benang merah dan menjadi kerangka pemikiran yang mempengaruhi pendekatanku dalam merintis dan mengembangkan usaha fotografi. Ketiganya berporos pada sifat penting pengetahuan sebagai aset dan manusia sebagai agen epidemi sosial. Bagaimana Aku menjalankan ketiga ide dasar tersebut akan tampak dalam aktivitas-aktivitas yang kulakukan dalam kehidupan sehari-hariku. Jadi, masa-masa sebelum dan beberapa saat setelah kelulusanku Aku sudah tahu apa saja yang harus kulakukan.

Ketika Aku sudah mencapai bagian-bagian akhir penulisan tesis master, Aku memiliki waktu lebih luang untuk mengasah kemampuanku memotret dan mengedit foto. Pun ketika Aku membaca mengenai konsep ekonomi politik dan terpikir mengenai masa depan yang ingin kubentuk dengan ilmuku, Aku jadi menyibukkan diri dengan praktik menganalisis seluk-beluk dunia bisnis. Aku mendapatkan banyak sekali pengalaman terkait dengan upayaku. Misalnya; Aku mencoba untuk melihat-lihat situasi market fotografi lokal dan nasional serta siapa saja orang-orang yang berpengaruh di masing-masing ranah, di mana saja tempat mencetak foto dengan kualitas yang bagus beserta jenis-jenis output cetak dan berapa biaya yang harus dikeluarkan, seperti apa paket-paket fotografi terutama wedding yang umumnya ditawarkan di pasaran lokal, nasional, dan internasional, apa hak dan kewajiban baik dari pihak fotografer maupun klien dan instrument beserta bentuk yang dapat menjaminnya.

Hal-hal yang kupaparkan di atas hanyalah sebagian contoh yang dapat kusebutkan. Aku mencatat dan menganalisis banyak hal terkait itu di dalam notes. Namun hingga kini, rutinitasku mulai terbentuk. Di bawah ini, Aku akan menjabarkannya;

Membaca dan Merenung

Aku gemar membaca banyak buku dan Aku memiliki buku-buku favoritku. Saat ini Aku sedang membaca “Sapiens”, karya Yuval Noah Harari. Di samping Sapiens, Aku juga banyak membaca artikel-artikel mengenai fotografi yang kubaca dari web-web fotografi terkemuka maupun web-web art populer lain yang kiranya bisa menginspirasi pendekatan dalam menciptakan karya visual termasuk fotografi dan videografiku. Beberapa bulan sebelum kelulusanku, Aku memiliki antusiasme yang tinggi untuk membeli beberapa majalah fotografi di toko buku langgananku. Namun seiring berjalannya waktu, Aku mengurangi kecenderungan tersebut setelah menemukan banyak ilmu mengenai fotografi yang dapat kuperoleh secara online.

Aku juga suka membaca novel atau karya sastra. Orang pada umumnya akan bertanya-tanya; Apa hubungan antara karya sastra dengan fotografi? Storytelling. Semakin banyak Aku membaca, mengolah informasi yang kucerap, dan melatih kemampuan berpikirku, maka semakin Aku mampu untuk menghadirkan suatu cerita dalam bentuk tertulis di websiteku atau merepresentasikannya ke dalam bentuk visual dengan cukup baik.

Bacaan lain yang juga gemar kubaca ialah artikel-artikel yang biasanya dibagikan oleh teman-temanku di beberapa media sosial yang kumiliki. Aku juga gemar membaca berita politik dalam dan luar negeri, buku tafsir Al-Mishbah karya Quraish Shihab dan buku-buku tentang keimanan lainnya, buku mengenai Epistemologi atau filsafat ilmu pengetahuan, serta berita ekonomi terutama sehubungan dengan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing. Tak ketinggalan pula, Aku juga suka membaca komik online yang terbit secara berkala semacam Boruto, The Promised Neverland, The Chainsaw Man, Fairy Tail, Hajime no Ippo, One-Punch Man, One Piece, dan Samurai 8.

Apa hubungan semua yang kubaca dengan profesiku? Wawasan, referensi topik perbincangan, dan paradigma. Sebagian besar orang-orang yang kupotret mengalami pengalaman yang sangat personal denganku selama dan setelah proses pemotretan. Mereka tak segan untuk bersikap terbuka. Kami menjadi teman baik.

Aku gemar merenungkan segala bentuk pengetahuan yang kuperoleh. Pengetahuan, terutama yang memiliki hubungan dekat dengan usahaku, melengkapi kerangka berpikirku. Pengetahuan mengenai aset membuatku mengedepankan keputusan untuk membeli perlengkapan-perlengkapan fotografi dan videografi dibandingkan hal-hal lain. Ini sesuai dengan prinsip kapital Marx mengenai kepemilikan alat produksi.

Mengapa Aku menganggapnya penting? Karena pengalaman lapangan menunjukkan bahwa menyewa perlengkapan fotografi dan videografi sangat sulit. Kadangkala Aku dibuat kewalahan karena perlengkapan yang ingin kusewa ternyata sudah disewa oleh para fotografer lain. Jasa persewaan memang tidak hanya satu di kotaku. Tapi Aku pernah mencari kemanapun dan perlengkapan sudah disewa.

Memiliki perlengkapan fotografi/ videografi secara mandiri membuatku memiliki ketenangan dan keleluasaan, bahkan dapat memproduksi portfolio di luar job-jobku.

Banyak hal lain yang kubenahi dari waktu ke waktu, terutama bagaimana Aku mengelola manajemen usahaku dalam bidang term and agreement. Aku membuat kontrak yang mencakup hak dan kewajiban antara Aku dengan klien sehingga tidak merugikan kedua belah pihak di kemudian hari.

Menonton Youtube

Channel yang paling sering kutonton ialah channel-channel yang menayangkan tutorial teknik post-processing foto dan video. Di luar itu Aku kerapkali menonton channel yang menayangkan hasil video dari para videografer yang menurutku unik serta memiliki karakteristik yang kuat, atau channel mengenai update peralatan-peralatan fotografi dan videografi. Aku juga menonton video-video dari satu atau dua channel tokoh stand up comedy Indonesia, update game-game terbaru, menonton channel Youtube band-band atau vlog-vlog para vlogger untuk sekadar melepas penat dan memperluas wawasan.

Kadangkala Aku lebih sering berlama-lama menonton tutorial langsung dari channel Youtube untuk memastikan apakah video tersebut penting dan layak kudownload atau tidak.

Melatih Skill Post-Processing Foto dan Video

“Melatih Skill Post-Processing Foto dan Video? Lho, kok ada videonya?” Bukankah orang mengenalku sebagai seorang fotografer? Yes, Aku juga antusias terhadap videografi.

Butuh ketelatenan untuk sampai pada titik dimana Aku tidak lagi terlalu susah mengikuti alur penjelasan tutorial karena Aku sudah mengerti alur-alur, teknik-teknik dasar, dan istilah yang digunakan dalam post-processing foto atau video. Software yang biasa kugunakan dalam post-processing foto adalah Adobe Photoshop, sementara Aku terbiasa menggunakan Adobe Premiere untuk post-processing video.

Sampai saat ini, Aku masih terus berupaya mengembangkan dan memperkuat karakteristik karya-karya foto dan videoku. Kemampuanku membuat video juga terkadang kugunakan untuk membuat video promosi usaha fotografiku.

Aktif Bersosialisasi dan Menjalankan Media Sosial

Aku memiliki Facebook dan Instagram sebagai media bersosialisasi. Namun Aku lebih sering saling mengirim pesan melalui DM (Direct Message) di Instagram dengan teman-teman maupun para rekan dan klienku. Apalagi, Instagram memiliki feature Instastory (Instagram Story) dimana setiap pengguna ternyata jauh lebih aktif menggunakannya dibandingkan dengan mengunggah foto-foto di feed Instagram mereka.

Aku berupaya meluangkan waktu untuk aktif mengomentari cerita-cerita yang mereka bagikan, dan membalas setiap komentar dari teman-teman yang mengapresiasi konten yang kubuat di Instastory. Aku justru sering mendapatkan project-project dari teman-temanku melalui Instastory. Tentu saja karena Aku juga suka aktif bersosialisasi dan mengapresiasi teman-temanku menggunakan feature tersebut serta mengunggah konten yang menunjukkan kompetensiku dalam fotografi maupun videografi. Ada yang secara langsung meminta kepadaku, adapula teman yang menjadi perantara bagi calon klien yang lain. Aku juga suka menggunakan Instastory untuk membagikan informasi bahwa Aku telah merilis tulisan terbaru di blog websiteku.

Instagram juga memungkinkanku untuk melihat karya-karya fotografer lain sebagai referensi karya visualku. Tak jarang Aku menemukan banyak fotografer dari berbagai belahan dunia yang menulis alamat website mereka pada biography Instagramnya sehingga Aku menemukan jauh lebih banyak portfolio di website dibandingkan Instagram mereka. Marketing yang bagus, sebagaimana marketing yang kulakukan.

Adapun Facebook, Aku lebih sering menggunakannya untuk membagikan tulisan-tulisan yang ada di websiteku. Aku juga menggunakan Facebook untuk membagikan artikel-artikel yang berhubungan dengan fotografi, videografi, dan popular culture. Aku jarang sekali menggunakan messenger di Facebook.

Memotret dan Shooting Video

Aku bisa memotret banyak hal seperti produk, landscapes, nature, street, dan fashion. Namun ketertarikanku lebih ke single portraits, prewedding, dan wedding. Khusus nature dan landscapes, Aku hanya melakukannya ketika kata hatiku menuntunku untuk melakukannya. Aku ingin melakukannya seorang diri saja. Adapun produk, Aku hanya melakukan apabila ada permintaan job, sedangkan fashion kulakukan jika ada permintaan job atau sudah memiliki ide untuk membuat portfolio. Street? Aku melakukannya untuk mengasah kemampuan mengomposisiku, dan tentu saja bermanfaat untuk storytelling wedding atau prewedding.

Terkadang Aku memotret dan shooting video untuk materi yang akan kubuat sebagai konten di Instagram Story, channel Youtube pribadi, atau websiteku. Jikalau Aku ingin membuat video, Aku akan membuat dengan cara penyampaian yang cukup berbeda dibandingkan video-video lain di Youtube atau media sosial lainnya. Oleh karena itulah Aku lebih sering memproduksi foto dibandingkan video karena effort untuk video lebih menguras tenaga dan waktu.

Berlatih Drum dan Menulis Lirik Lagu Bandku

Yeah, Aku bermain drum dan menulis lirik-lirik lagu bandku saat ini; SIGNIFIKAN. Kami memainkan lagu sendiri.

Aku belajar banyak dari band ini dalam hal komposisi drum. Mengapa belajar banyak? Karena keyboardistku adalah seorang sarjana musik dari jurusan komposisi. Satu band dengannya membuatku harus kembali ke teori-teori dasar teknik drum untuk bisa memahami drum guide yang Ia tawarkan. Skillnya membuatku terpacu untuk terus berkembang !

Bagaimana dengan lirik? Mungkin karena Aku banyak membaca dan memiliki referensi kata-kata, bassistku mempercayakan pembuatan lirik-lirik kepadaku. Tantangan pembuatan lirik terletak pada penyesuaian antara nada-nada yang dibuat dalam komposisi dengan huruf vokal maupun non-vokal dalam referensi kata-kata yang Aku kuasai, serta penyesuaian antara kata-kata atau kalimat yang sastrawi maupun yang sederhana.

Percayalah, membuat lirik membuatmu agak ‘gila’ karena harus mendengarkan dan mengulang suatu part lagu berkali-kali !

Mencuci, Menjemur, dan Menyetrika Pakaian

Karena Aku berpikir untuk bertanggungjawab terhadap hidupku sendiri, Aku mencuci, menjemur, dan menyetrika pakaian meskipun Aku juga memiliki kesibukan lain. Strategi untuk membagi waktu antara rutinitas ini dengan yang lain adalah mencoba menjalani sendiri. Aku juga mencoba menerapkan prinsip minimalis dengan mengurangi pakaian-pakaian yang tidak lagi kubutuhkan. Aku mengutamakan pakaian semacam kaos yang santai tapi tetap pantas kupakai untuk sehari-hari. Aku juga mengutamakan warna hitam, putih, dan abu-abu dibandingkan warna lain. Jadi, setiap harinya aku tidak mencuci, menjemur, dan menyetrika banyak pakaian. Namun dalam implementasinya dibutuhkan kedisplinan tinggi mencuci, menjemur, dan menyetrika untuk memenuhi supply pakaian setiap hari.

Menulis dan Mengurus Website

Per April 2019 Aku mulai mengurus website dengan platform dasar WordPress. WordPress bukan instrument baru bagiku, karena pada 2012-2013 Aku memiliki akun WordPress dan mengetahui bagaimana cara kerjanya sebagai pemilik akun. Namun baru pada akhir 2016 dan awal 2017 Aku mulai sedikit belajar tentang struktur dasar dari website platform WordPress, dan per April 2019 Aku mengelola websiteku sendiri sebagai pemilik website, bukan sebagai pemilik akun biasa. Aku membeli hosting, domain, dan setting SSL sehingga Aku memiliki domain “jinanramadhan.com”. Ini tentu saja berbeda dengan setiap pemilik akun wordpress dengan site address “username.wordpress.com”, karena mereka hanya pemilik akun yang tidak memiliki hosting dan domain.

Aku memiliki website supaya bisa menjangkau market yang lebih luas. Maka dari itu Aku memasang plug-in Monster Insight, Google Analytics, dan Yoast SEO untuk membantu mengarahkanku menulis konten yang baik dan mempermudah Google melacak situsku untuk meletakkannya di halaman pencarian Google. Baru-baru ini Aku juga kerap menggunakan Ubersuggest’s untuk membantuku melakukan riset keyword dan ide konten dalam skala lokal, nasional, dan worldwide.

Selain lebih unggul dibandingkan dengan media sosial lain seperti Instagram dengan keterbatasan caption space dan layout-nya, website mempermudahku untuk memperlihatkan portfolio profesionalku kepada para calon klien hanya dengan sekadar mengirim link URL saja untuk melihat segalanya.

Everyday Life: Tak Seperti yang Diasumsikan sebagian Orang

Everyday Life: Begitulah kehidupanku sehari-hari. Kehidupanku setiap hari penuh aktivitas dan kebiasaan-kebiasaan yang positif, karena Aku percaya masa depanku dibentuk oleh hal-hal yang konsisten kulakukan pada saat ini. Terutama pengetahuan sebagai aset utama yang akan mengarahkanku pada keputusan-keputusan dalam usahaku seperti; pembelian aset dan penentuan market. Waktunya lama? No. Waktu berjalan cepat bagi orang yang benar-benar menjalankannya. Hal terpenting yang perlu diperhatikan di sini ialah fokus berusaha, bukan mencemaskan masa depan yang belum pasti.

Merintis sebuah usaha bukanlah hal yang sepele. Orang-orang awam kebanyakan menganggap bahwa sebuah bisnis atau wirausaha merupakan tambang emas yang bisa dikelola dengan mudah. Permasalahannya di sini ialah; kebanyakan mereka bisa memiliki modal besar berupa uang di awal, namun tidak memiliki ketekunan dan pengetahuan sehingga berpengaruh pada masa depan usaha yang mereka rintis.

That’s all, the story of my everyday life. Apakah sebagai pelaku usaha atau pekerja seni kalian memiliki “Everyday Life” versi kalian sendiri? Jika ya, coba tuliskan pada kolom komentar di bawah. Akan sangat menyenangkan jika kita saling berbagi versi “Everyday Life” dan menebar inspirasi kepada sesama.

Oh ya, kalian bisa melihat beberapa hasil single portraits-ku, atau wedding dan prewedding photography dariku.

Sampai jumpa pada kesempatan lain !

Salam,

Jinan Ramadhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *