Facts About Goals

baking process

Facts About Goals?

“Sudah banyak tulisan yang mengulas tentang goals. Memangnya apa saja fakta-fakta mengenai goals yang belum diketahui orang?”

Konsep atau istilah goals biasa ditemukan dalam banyak wacana seperti; akademik, karier, bahkan business plans.

“Aku ingin menyelesaikan masa kuliah magister dalam waktu tepat 2 tahun”,

“Aku ingin naik jabatan dalam waktu 3 tahun”,

“Aku ingin bisnisku berkembang pesat dalam waktu 1 tahun”.

Ketiga pernyataan tersebut menunjukkan bahwa banyak orang menganggap ‘goals’ sebagai hal yang penting. Tapi, apa sih ‘goals’ itu? Terlebih lagi, bagaimana ‘goals’ semestinya dilihat?

Hello, my name is Jinan Ramadhan and thank you for reading my journal. I often take pictures of many people on single portrait, prewedding, and wedding. So many things that I can get from this activity. On this journal, I will tell about “facts about goals”. I know this journal doesn’t seem to have anything relations with photography. But, of course this article has relations with creative workers paradigm. I hope the story can inspire readers, business people, especially photographers.

Facts About Goals: Prologue

Alih-alih menulis mengenai bagaimana cara membuat dan mencapai goals, Saya justru ingin menulis bagaimana semestinya kita melihat goals.

Sebelum melangkah lebih jauh, Saya ingin mengajak Anda memahami pembahasan kali ini secara mendasar. Saya akan memulainya dengan menyorot konsep dalam judul tulisan ini.

Ada dua konsep dalam “facts about goals”, yaitu; “Facts” dan “Goals”.

FACTS

“Facts”; A thing that is known to be true, especially when it can be proved. ‘Suatu hal yang diketahui sebagai hal yang benar atau dianggap sebagai sebuah kebenaran, terutama apabila hal tersebut dapat dibuktikan’.

Point penting dalam pengertian di atas ialah terdapat istilah diketahui’ serta ‘dapat dibuktikan’.

‘Diketahui sebagai hal yang benar’ berarti hanya sekadar tahu, bahwa facts (fakta) tersebut dianggap benar oleh orang-orang pada umumnya.

Facts bisa saja mengandung kaidah-kaidah science yang argumentatif. Sebaliknya, facts juga bisa berupa pendapat yang didasarkan atas asumsi belaka, bahkan diterima dan disepakati tanpa melalui proses berpikir ilmiah.

Alangkah baiknya apabila validasi beserta value facts dibuktikan melalui perangkat ilmiah.

Pendek kata, facts berarti merupakan pernyataan mengenai kenyataan. Ia bisa dilihat dan disimpulkan secara berbeda berdasarkan perspektif masing-masing orang. Satu hal bisa diinterpretasi dengan beragam rupa dan cara, tergantung oleh perangkat pengetahuan macam apa yang dimiliki. Value facts tergantung dari perspektif serta effectiveness dalam merumuskan dan menjawab persoalan.

Demikian juga halnya bagi Saya, facts mengenai goals justru Saya bahas dari perspektif bagaimana semestinya Ia dilihat. Ini merupakan hal yang penting sebagai landasan dasar untuk memahami ‘goals’.

GOALS

Sedangkan “Goals”; Anda tentu tahu definisi sederhana dari istilah ini. Orang-orang menyepadankan pengertian “goals” dengan “tujuan”, dimana konsep “tujuan” juga lazim disebut sebagai visi, misi, dan target.

Ada goals kecil, juga goals besar. Satu goals besar, dicapai dengan cara menyelesaikan hal-hal kecil terlebih dahulu.

Contoh;

Saya sedang merintis bisnis kopi literan. Goalsnya adalah mendapatkan profit -katakanlah- 30 juta per bulan. Tentu banyak hal yang harus ditangani dalam mengelola bisnis ini.

Goal mendapatkan profit 30 juta per bulan kemudian dipecah menjadi goal-goal lain.

Hal-hal yang harus ditangani itu masuk dalam dua kategori besar; aspek produksi dan marketing.

Dua hal tersebut dipecah lagi menjadi goal yang lebih kecil dengan merumuskan masalah-masalah yang ditemui atau yang diperkirakan.

Hal pertama yang terlintas di benak Anda ketika mendengar istilah marketing tentu ialah strategi, dengan kata lain strategi melakukan marketing.

Bagaimana cara memasarkan produk Anda?

Ada banyak strategi marketing, salah satunya ialah menarik calon buyer dengan aspek visual seperti foto produk. Ini dilakukan tak peduli apakah Anda memiliki budget untuk iklan berbayar, maupun mempromosikan produk Anda secara mandiri tanpa budget atau organik sesuai dengan pembelajaran Anda atas algoritma media sosial.

Nah, dalam proses pembuatan foto produk Saya musti memikirkan konsep terlebih dahulu. Saya mencari referensi mengenai kopi dan fotografi kopi, sembari memikirkan mengenai properti apa saja yang harus Saya persiapkan. Apabila tidak memiliki biaya yang cukup untuk menyediakan properti, Saya memikirkan kira-kira properti apa saja yang tersedia di rumah dan bagaimana cara mengakali supaya hasil foto terlihat profesional, mewah, juga berkelas.

Saya juga harus memikirkan; “… dengan alat apa Saya memotret produk? Apakah menggunakan kamera DSLR atau smartphone? Apa kelebihan dan kekurangan diantara keduanya? Jika Saya menggunakan DSLR, lensa apa saja yang diperlukan? Apa yang terjadi apabila lensa yang Saya miliki rusak sementara Saya tidak memiliki ongkos perbaikan?”

Menyewa jasa seorang fotografer profesional? Bisa menggunakan cara seperti itu. Namun jika tidak memiliki ongkos? Bagaimana jika Anda sendiri memiliki kamera namun tiba-tiba peralatan memotret Anda rusak sementara ongkos sudah terpakai untuk properti pemotretan?

Lebih lanjut lagi; “… jika Saya sudah memiliki foto-foto produk, lantas berapa banyak foto yang harus Saya unggah dalam sehari supaya orang-orang di media sosial menyadari eksistensi brand Saya?”

Pertanyaan terakhir akan membawa kita pada persoalan bagaimana memahami algoritma sosial media sebagai ‘pejuang konten organik’ supaya eksistensi brand kita lebih menonjol dibandingkan kompetitor lainnya. Lagi-lagi, kita diarahkan kepada persoalan lain.

Cerita di atas hanya sekelumit dari rentetan persoalan dalam bisnis yang harus dihadapi. Kita akan selalu dihadapkan pada persoalan-persoalan yang harus kita selesaikan. Semua pebisnis mengalami hal ini, terutama ketika mereka merintis usahanya.

Jika kita menjalankan bisnis dengan kerjasama team, tentu akan lebih mudah membagi tugas sesuai dengan keahlian dan kesepakatan.

Akan tetapi, apakah benar sesederhana itu mengelola team?

Sementara di sisi lain, orang-orang dalam lingkungan Anda mempertanyakan apa yang sedang Anda cita-citakan dan bertanya-tanya dengan enteng; “Apa goals-mu?”

Mereka yang bertanya-tanya mungkin meragukan kemampuan Anda. Mungkin juga mereka mau membantu, atau bahkan yang lebih buruk lagi tanpa disadari mereka sebetulnya ingin melampiaskan kekesalan; mengapa Anda tak kunjung sukses.

Well, banyak masalah tak terduga terjadi dalam proses mencapai goals, tanpa orang lain tahu perjuangan kita, bahkan ada pula yang tidak mau tahu tanpa ikut mengalami dan merasakan perjuangan kita. Melihat saja dan sekadar berkomentar itu tidak cukup.

Faktanya; orang-orang pada umumnya terlalu fokus pada pertanyaan mengenai apa goals-nya. Mereka tidak fokus menghadapi dan menyelesaikan masalah yang sedang terjadi.

FACTS ABOUT GOALS: BAGAI BERLAYAR DI LAUTAN

Permasalahan ini ibarat kita sedang berlayar bersama.

Kita telah menetapkan pulau tujuan kita. Baik. Mari kita mulai perjalanannya.

Mulanya kita senang dan menikmati perjalanan.

Lalu, banyak masalah menghadang;

Badai yang mengombang-ambingkan kapal kita.

Beberapa penerangan padam oleh angin yang kencang sehingga kita kesulitan melihat.

Lantai kapal menjadi licin oleh air yang masuk ketika kita terombang-ambing.

Kita berusaha mengendalikan kemudi, pun mempertahankan layar.

Lambung kapal tergores karang yang berusaha kita hindari dengan susah-payah ketika badai terjadi.. dan kita kemudian berusaha mengatasi kebocoran.

Lalu, apa yang kita lakukan? Apakah mempermasalahkan ke mana pulau tujuan kita, atau …

YA ! KITA HARUSNYA SEDANG BERUSAHA MENGHADAPI DAN MENYELESAIKAN MASALAH-MASALAH YANG TERJADI !

So, fokus hadapi dan selesaikan masalah yang terjadi pada saat itu juga, detik itu juga.

Kita sudah tahu pulau mana yang akan dituju.

Ki-ta su-dah ta-hu.

Berhenti meributkannya berulang kali.

Selesaikan apa yang benar-benar terjadi di depan mata.

Jika sudah dan ternyata ada pulau terdekat, kita bisa berlabuh sementara untuk mempersiapkan bekal perjalanan, belajar dari pengalaman, sekaligus mental ke pulau tujuan utama kita.

Jika satu-persatu masalah terselesaikan dan kita terlatih menyelesaikan masalah-masalah itu, maka kita akan terlatih menyelesaikan masalah yang sama.

Kita tentu juga dapat meminimalisir masalah yang sama terjadi berulang kali.

Niscaya kita akan mendekat ke pulau tujuan kita.

Tiada yang menyadari, ‘kan?

No one realized this fact,

Bahwa masalah yang lebih penting dibandingkan goals ialah fokus menyelesaikan masalah-masalah yang tidak terduga dalam perjalanan mencapai goals itu sendiri. Masalah-masalah itu muncul tepat di depan mata.

Orang-orang membuat goals.

Sebagian diantaranya tidak konsisten dan tidak fokus menghadapi masalah-masalah tidak terduga itu.

Jangan memunculkan masalah yang tak perlu jika masalah-masalah yang sedang dihadapi belum selesai.

The problem is;

Mindset.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *