Kolaborasi Profesional: Etika dan Implementasi

Fishermen professionalism

Kolaborasi profesional dalam konteks pembahasan kali ini perlu dijelaskan dengan cara membaginya menjadi dua konsep, yaitu; ‘kolaborasi’ dan ‘profesional’.

Hello, my name is Jinan Ramadhan and thank you for reading my journal. I often take pictures of many people on single portrait, prewedding, and wedding. So many things that I can get from this activity. But in this article, I will tell Professional Collaboration, below. I know this journal doesn’t seem to have anything relations with photography. But, of course this article has relations with creative workers paradigm. I hope the story can inspire readers, business people, especially photographers.

Profesionalisme

Profesionalisme menjadi konsep pertama yang ingin Saya paparkan sebelum Saya mengajak para pembaca membahas konsep kolaborasi. Hal ini disebabkan karena profesionalisme merupakan dasar dan tonggak kerjasama dalam bentuk apapun, baik kerja profesi maupun kolaborasi.

Apa itu ‘profesionalisme’?

Profesionalisme berasal dari kata ‘professionalism’, yang pada dasarnya terdiri dari gabungan antara kata ‘professional’ dan ‘ism’.

‘Ism’ sederhananya dapat kita maknai sebagai ‘faham’ atau pandangan.

Sementara itu, ‘professional’ atau ‘profesional’ dapat kita maknai sebagai segala sesuatu yang bersifat profesi, dimana profesi dapat kita maknai sebagai kerja memanfaatkan keahlian yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan orang-orang dalam market tertentu dan mempertukarkannya dengan sumber penghidupan yang menjamin kelangsungan hidup (baca: uang). Jadi, di dalam profesi terdapat pertukaran antara skill dengan uang.

Mungkin Anda terkadang mendengar orang-orang berkata;“Ia seorang profesional”, yang artinya; “Ia memanfaatkan keahliannya untuk dipertukarkan dengan uang sebagai sumber penghidupan”.

Bahkan adapula yang mengatakan;“Ia profesional”, yang bisa berarti;“Skillnya sudah mumpuni karena jam terbangnya sudah tinggi dan pengalamannya sudah banyak”.

Kedua ungkapan pada dua paragraf di atas memberikan gambaran bahwa seorang profesional kualitasnyapun bermacam-macam. Seorang profesional didatangi dan dibayar mustinya karena orang-orang memercayai keahliannya, bukan semata-mata karena ia ‘bisa’ mengoperasikan alat. Semakin tinggi value yang dimiliki seorang profesional, maka semakin tinggi bayaran. Hal lain yang penting untuk diketahui ialah; secara etik, mustinya semakin kecil intervensi direct dari client. Seorang profesional yang terlatih jauh lebih tahu dibandingkan client mengenai bagaimana menciptakan karya yang stand out (menonjol).

Dalam konteks profesi Saya, ‘seseorang yang bisa mengoperasikan kamera’ berbeda dengan ‘seseorang yang mampu menghasilkan indispensable creation (karya yang tidak bisa ditemukan subtitusinya/ tidak tergantikan)’.

Kalau Anda membutuhkan seseorang yang sekadar bisa mengoperasikan kamera untuk Anda direct secara penuh berdasarkan keinginan Anda, cari dan ajaklah seorang amatir. Bahkan Andapun bisa memotret diri sendiri menggunakan remote wireless untuk menekan tombol shutter dari jarak jauh.

Sesederhana itu.

Kembali ke pembahasan mengenai konsep profesionalisme, berarti dengan kata lain; professionalism atau profesionalisme merupakan faham atau pengertian mengenai bagaimana semestinya kita memandang konsep ‘profesional’ dan ‘profesi’, terutama bagaimana kita mengimplementasikan profesionalisme dan etikanya dalam pekerjaan.

Lalu, bagaimana dengan ‘kolaborasi’ dan ‘kolaborasi profesional’?

Kolaborasi

Kolaborasi secara sederhana berarti; kerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

Anda tentu tahu bagaimana orang-orang era terkini mengatakan tentang kolaborasi;

“Sekarang zamannya kolaborasi, bukan berkompetisi”.

Istilah ‘kompetisi’ dalam kalimat di atas menunjukkan pandangan umum bahwa selama ini ada pihak-pihak tertentu dalam bidang yang sama saling berkompetisi.

Nah, dalam pengertian kolaborasi masa kini para pihak tersebut tidak saling berkompetisi, melainkan saling bekerja sama. Mereka bertukar pikiran, menciptakan ide-ide tak terkira yang sebelumnya tidak terjangkau dibandingkan ketika mereka bekerja sendirian.

Contoh; musisi bernama Suzie yang biasanya membuat struktur lagu dari intro-verse-bridge-reff-outro, berkolaborasi dengan musisi bernama Ryan yang biasanya membuat struktur lagu dari reff-intro musik-verse-bridge,reff-outro. Begitu juga dengan Ryan, berkolaborasi dengan Suzie yang menciptakan pemilihan nada-nada yang berbeda darinya. Harapan ke depan tidak hanya keuntungan berupa uang ketika karya kolaborasi mereka dirilis, tetapi juga ilmu atau perspektif yang berbeda.

Bahkan dalam kasus lain, ada pula yang memandang kolaborasi sebagai kerja sama beberapa pihak dalam bidang yang sama namun berbeda profesi. Contoh; sebuah band rock menggandeng seorang ilustrator membuat ilustrasi untuk artwork setiap single atau satu album musik mereka. Sama seperti halnya dengan Suzie dan Ryan, band rock dan ilustrator juga belajar dari sesamanya.

Kolaborasi Profesional

Kolaborasi juga tidak terbatas pada dua contoh mendasar di atas. Orang-orang yang amatir sekalipun pada umumnya mengatakan bahwa karya mereka merupakan karya kolaborasi, meskipun pengorganisiran tugas tidak dikelola secara profesional.

Kolaborasi profesional yang Saya maksud di sini ialah kolaborasi yang dilakukan dengan berlandaskan pemahaman atas keahlian masing-masing dan pembagian tugas yang jelas. Pada praktiknya menerapkan kolaborasi berdasarkan konsep profesionalisme sebagai dasar untuk menempatkan sesuatu sebagaimana mestinya sehingga tidak mengerdilkan peran dan posisi pihak-pihak yang terlibat.

Contoh; Anda mengajak sutradara sekelas Joko Anwar untuk berkolaborasi. Anda tentu tahu spesialisasinya adalah sutradara. Jadi, dalam konteks kolaborasi profesional yang Saya maksud, directing adalah wewenang Joko Anwar. Bukan orang lain atau bahkan Anda sendiri.

Contoh lain; Anda mengajak seorang barista profesional untuk berkolaborasi membuat kopi signaturenya di cafe yang baru saja Anda buka. Anda tentu tahu spesialisasinya adalah barista. Dalam konteks praktik kolaborasi profesional yang Saya maksud, membuat kopi adalah wewenang barista tersebut. Bukan orang lain atau Anda sendiri.

Dalam perspektif kolaborasi profesional sebagaimana kedua contoh di atas, Anda mungkin bisa mendiskusikan untuk belajar darinya, namun secara etis Anda musti memiliki kesadaran untuk tidak mengintervensi. Anda juga tidak etis sekonyong-konyong bertanya;“Gimana caranya bikin kopi?” atau “Gimana cara menyutradarai?” untuk kemudian Anda yang menjadi barista dan sutradara sampai project selesai sehingga Anda mengerdilkan peran seorang profesional dalam kolaborasi tersebut.

Apa yang Anda lakukan bukan kolaborasi. Tetapi minta ilmu kepada profesional. Kolaborasi dan minta ilmu untuk kepentingan Anda menjadi pelaku dalam project terkait, itu sudah persoalan yang berbeda. Wujud karya kolaborasi mestinya mengandung value yang dimiliki oleh pihak-pihak yang terlibat. Bukan dominasi dari salah satu pihak.

Tanpa pemahaman mengenai kolaborasi dan profesionalisme, sebagaimana halnya dengan sifat kompetisi yang bisa mengandung ‘kompetisi sehat’ dan ‘kompetisi tak sehat’, kolaborasi profesional juga akan cenderung bernasib sama.

So, sebelum Anda datang ke seorang profesional, Anda musti melihat-lihat dan bertanya;

“Apa yang Saya butuhkan dari seorang Profesional ini? Apakah kemampuannya mengoperasikan alat atau ciri khasnya?”

Regards,

Jinan Ramadhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *