“OMONGANMU (N)DAKIK”: Misperception about The ‘complexity’ and ‘simplicity’ of Communication

“Omonganmu (n)dakik”: Misperception about The ‘complexity’ and ‘simplicity’ of Communication merupakan upaya kritik Saya atas ungkapan; “omonganmu ndakik” atau “nggak usah ketinggian deh ngomongnya”. Karena, -menariknya-, pernah ungkapan tersebut justru disampaikan oleh orang yang berpendidikan tinggi dalam konteks perbincangan dengan sesamanya.

Saya melihat bahwa ungkapan tersebut sesungguhnya lahir bukan dari tanggapan atas kerumitan istilah-istilah atau cara penyampaian yang digunakan oleh orang lain, namun justru sebagai perwujudan dari mentalitas yang kurang baik dalam keterbukaan serta penerimaan atas hal-hal baru dari luar dirinya. Hal ini sekaligus menjadi pertanda ke-tidak mampu-an menggenapi makna dari komunikasi, terutama dalam upaya bersama mencari solusi.

Hello, my name is Jinan Ramadhan and thank you for reading my journal. I often take pictures of many people on single portrait, prewedding, and wedding. So many things that I can get from this activity. On this journal, I will tell myth about simplicity and complexity in communication. I know this journal doesn’t seem to have anything relations with photography. But, of course this article has relations with creative workers paradigm. I hope the story can inspire readers, business people, especially photographers.

“OMONGANMU NDAKIK”: PENDAHULUAN

“Omonganmu ndakik”.

ANONIM, ANTAH BERANTAH

Pernahkah Anda mendengar pernyataan tersebut?

“Omonganmu ndakik”, merupakan ungkapan yang bisa ditemukan pada suatu percakapan dalam kehidupan sehari-hari. Ungkapan tersebut merupakan satire atau sindiran bahkan cibiran kepada seseorang yang cara penyampaiannya dalam berkomunikasi dianggap susah untuk dipahami. Kerumitan cara penyampaian itu bisa ditemukan pada konsep, istilah, atau struktur kalimat yang digunakan.

Ada yang mengatakan bahwa “ndakik” itu artinya “ketinggian”, atau hal yang terlalu rumit untuk dipahami orang awam. Sementara ada pula yang mengatakan bahwa sebenarnya istilah aslinya ialah “dakik-dakik”. Istilah ini berasal dari istilah Jawa; “dakik-dakik”, yang bermakna “menggunakan bahasa yang sulit dicerna oleh orang awam”. Sama maknanya, tetapi ada sedikit perbedaan di huruf (n) pada “ndakik”. Istilah “dakik-dakik” biasanya diucapkan dengan tambahan (n) pada awal kata menjadi; “ndakik-ndakik”.

Kita bisa melihat ketika ungkapan ini dilontarkan dalam konteks-konteks tertentu.

Contoh;

Seorang sarjana ilmu sosial terkemuka datang ke sebuah kampung pasca bencana gempa bumi melanda kampung tersebut. Kedatangannya diliput oleh beberapa media nasional. Apabila Si Sarjana berjalan, para awak media mengikuti. Bila Si Sarjana duduk berbincang dengan salah satu penduduk, sebagian awak mediapun ikut duduk. Si Sarjana seolah-olah menjadi pusat alam semesta. Maklum, sarjana merupakan salah satu posisi penting di tengah-tengah masyarakat, apalagi kalau terkemuka.

Sampai pada satu kesempatan setelah berkeliling melihat situasi dan kondisi kampung, para wartawan tergelitik untuk mengajukan pertanyaan kepada Si Sarjana terkemuka itu.

“Apa yang ingin Anda sampaikan terkait bencana ini, Pak?”, tanya seorang wartawan.

Sarjana Terkemuka menjawab;

“Hm.. Ya, yang jelas… Bapak-bapak, Ibu-ibu, beserta saudara-saudara sekalian tenang saja. Setelah Saya berkeliling melihat keadaan dan berbincang dengan para perangkat desa terutama Bapak Kepala Desa, bisa Saya lihat bahwa struktur-struktur telah runtuh. Bangunan atau rumah kita memiliki struktur. Nah, banyak bangunan runtuh. Tak hanya itu, bahkan struktur-struktur kuasa di desa inipun mengalami ketimpangan. Para aparat tidak dapat menjalankan tugas-tugasnya seperti biasa. Sementara, banyak dari para penduduk biasa di desa ini tidak memiliki power sebagaimana orang-orang berpunya di desa lain meng-cover kekurangan penduduk sesamanya. Tentu saja, paradigma kita harus dirubah dengan pendekatan-pendekatan yang revolusioner untuk menanggulangi persoalan serius ini. Dengan demikian, setiap individu di desa ini memiliki legitimasi atas hal-hal tak terduga yang terjadi di luar dirinya”.

Sesama pembelajar dari kalangan universitas barangkali mengernyit ketika mendengar kata-kata Sang Sarjana tersebut melalui televisi. Persoalannya; menurut sesama pembelajar, penuturan Sang Sarjana mengandung istilah-istilah yang asing dan terdengar rumit dicerna oleh orang-orang kampung.

“Omonganmu ndakik !”, cibir penonton.

“Kalau bicara itu yang netral-netral saja … yang semua orang itu tahu, gitu lho !”, pungkas penonton.

Ya… Ada benarnya berbicara “netral”..,

Walaupun; ‘menurut sesama sarjana’ belum tentu sama dengan; ‘menurut orang kampung’..

Sebagai penonton barangkali sesama pembelajar tersebut tidak tahu-menahu konteks persoalan, misal; seperti apa demografi -terutama pendidikan- penduduk kampung itu?

Bahkan boleh jadi, “omongan ndakik” belum tentu dipersoalkan oleh penduduk kampung pada saat kunjungan itu terjadi. Tiada yang bisa menjamin semua penduduk kampung secara serentak merasa kebingungan mendengar petuah Si Sarjana terkemuka.

Kenapa? Karena;

Sebagian yang hadir bisa jadi sekadar mendengar namun melayangkan pandang ke arah lain seakan melamunkan persoalan pribadinya,

Sebagian yang lain mungkin sayup-sayup mendengar namun yang terpenting adalah formalitas kehadirannya di lokasi atau terkekeh ketika menyadari dirinya disorot kamera televisi,

Sebagian mungkin benar-benar bingung, namun menurut mereka hal tersebut tak jadi soal karena bisa dipelajari selepas peristiwa itu.

Jadi, mental para penduduk yang ada di situ dan pada saat itu tak mesti sama sebagaimana yang dibayangkan oleh para pembelajar yang menonton siaran langsung tersebut. “Ndakik” belum tentu jadi persoalan yang perlu dibicarakan.

Jika demikian, ‘omongan ndakik’ itu untuk mewakili siapa?

Siapapun tak jadi soal, mengingat kisah di atas hanyalah contoh untuk menggambarkan bagaimana pada umumnya ungkapan tersebut dilontarkan. Terkadang orang-orang merasa harus membela atau mewakili sesuatu tanpa mengetahui apa kemauan pihak yang dibela. Meskipun demikian, bisa saja kita simpan pertanyaan tersebut untuk kita renungkan bersama setelahnya.

Barangkali para pembaca merasa tak asing dengan kisah semacam ini.

Juga, dampak “psikologis” yang ditimbulkannya.

MENGAPA ADA ISTILAH-ISTILAH ‘NDAKIK‘?

Sebagaimana yang Saya sampaikan jauh di atas, sifat ‘ndakik’ bisa saja ditemukan dalam istilah-istilah, konsep-konsep, atau struktur kalimat dalam suatu perbincangan.

Struktur, kuasa, wacana, wicara, legitimasi, power, paradigma, merupakan contoh istilah-istilah atau konsep-konsep yang pada umumnya dikategorikan oleh sebagian orang ke dalam sifat ‘ndakik’ dan sangat lazim ditemukan pada karya-karya ilmiah ilmu sosial.

Pada sisi lain, kita bisa menemukan hal yang serupa ‘ndakik’-nya dalam karya-karya ilmiah ilmu alam. Termodinamika, ekolokasi, merunduk, konveksi, dan generatif, merupakan contoh-contohnya.

Jika istilah-istilah tersebut dinilai sebagai hal yang ‘ndakik’ alias rumit dan memusingkan, maka perlu dipertanyakan; “Mengapa perlu ada istilah-istilah yang memusingkan itu?”

Baik. Sekarang bayangkan Saya minta tolong kepada Anda.

“Tolong ambilkan ‘benda yang terbuat dari kayu, berpondasi empat, dan digunakan untuk duduk’ itu, ya”.

Bingung? Baik, Saya ulangi dengan cara lain.

“Tolong ambilkan kursi itu, ya”.

Lebih mudah?

Nah.

Apabila sedang berada di tempat kejadian, alih-alih mendeskripsikan objek yang Anda maksud, bisa saja Anda langsung menunjuk objeknya. Akan tetapi, bagaimana jika Anda tidak sedang berada di tempat kejadian dan harus menceritakannya kepada orang lain, seperti ini;

“Tadi Aku bertemu dengan Gilbert di cafe. Ketika Ia tiba, Ia duduk di atasbenda yang terbuat dari kayu, berpondasi empat, dan digunakan untuk duduk’. Ia memanggilku. Aku bergegas menghampirinya dan mengambil benda yang terbuat dari kayu, berpondasi empat, dan digunakan untuk duduk’. Kemudian aku duduk di atasnya dan berbincang dengannya”.

Bagaimana?

“Ah, semua orang juga tahu itu ‘kursi‘. ‘Kursi‘ ‘kan bukan istilah yang rumit. Lagipula, istilah ‘kursi’ sudah ada dan digunakan sejak dahulu”.

Bukan. Persoalan tidak terletak pada ‘sudah berapa lama istilah tersebut biasa digunakan’, melainkan terletak pada prinsip dan kaidahnya.

Mengapa perlu ada satu istilah atau satu konsep untuk mewakili suatu penjabaran, objek, atau peristiwa yang kompleks?

Anda sudah tahu mengapa.

NDAKIK DI ANTARA SESAMA PEMBELAJAR: PERBEDAAN MENTAL

Pada suatu kesempatan, Saya bertemu dengan sekelompok orang dalam suatu acara. Bukan acara khusus semacam seminar ataupun acara formal lain, namun setidaknya ada satu orang yang terlibat dalam perbincangan ‘intens’ yang ‘serius’ dengan Saya setelah beberapa lama pertemuan kelompok itu berlangsung. Masing-masing dari kami mulai berpencar dan saling menemukan kawan perbincangan yang sekiranya tampak sesuai atau ‘satu frekuensi’.

Saya bersama dua orang pada saat itu. Sebut saja; satu bernama Y, dan satunya lagi bernama X.

Y adalah seorang sarjana ilmu sosial. Y terlihat lebih menonjol dibandingkan X. Setiap kali dia berbicara, seakan Ia memiliki kharisma yang tak mampu dibendung lawan bicaranya. Awalnya, cara Ia menyampaikan pemikirannya betul-betul mudah dicerna, disertai dengan intonasi dan gesture yang menunjukkan bahwa Ia merupakan orang yang paham betul apa yang sedang dibicarakannya.

Y beserta Saya mendominasi pembicaraan, sementara X terlihat lebih sering menyimak kami.

Ya, terkadang X menanggapi. Saya berupaya mengurangi ‘porsi’ dalam perbincangan, supaya X tidak merasa ‘sendirian’ karena terlihat jarang menyampaikan pemikirannya.

Sampai pada suatu titik dimana Y memotong kesempatan Saya berbicara.

“Sorry nih ya, beberapa kata-katamu sulit dicerna. Ndakik !”, kata Y.

Terus terang Saya tidak tersinggung. Saya justru menanggapi;

“Wah, maaf. Agak sulit juga mencari padanan kata-katanya jika mau disederhanakan. Coba Saya pikir-pikir.. Kira-kira apa ya..”, respon Saya, berusaha membantu.

“Nggak usah repot-repot”, ketusnya.

Nah, singkat cerita Y kembali menuangkan pemikirannya akan suatu hal, sampai pada satu kesempatan Saya menemukan istilah atau konsep yang [ndakik]’asing’ bagi Saya..

.. dan itu terselip diantara pemaparan Y.

Saya menunggu Y menyelesaikan penjelasannya, kemudian Saya bertanya kepadanya;

“Y, maaf. Bisakah kau menjelaskan kepadaku arti dari beberapa istilah yang kau gunakan dalam penjelasanmu barusan?”

“Oh, tentu”, jawab Y tanpa menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Nah.

Anda bisa melihat perbedaan antara Saya dengan Y.

Sama-sama pembelajar, tetapi punya perbedaan dalam menyikapi yang ‘ndakik-ndakik’.

“OMONGANMU NDAKIK”: MARI BELAJAR DARI DREAM THEATER DAN YASRAF AMIR PILIANG

Banyak cerita lain yang kurang lebih ‘serupa’ dengan cerita ‘ndakik’ di atas.

Ungkapan ini terdengar akrab di telinga Saya;

“Percuma pinter tapi omongannya nggak dipahami orang lain”.

anonim, antah berantah

Apakah ungkapan tersebut juga terdengar familiar bagi Anda?

Saran Saya, tak semua omongan yang ‘melangit’ atau dianggap ‘ndakik’ layak untuk buru-buru ditanggapi dengan ungkapan dalam kutipan di atas. Mengapa?

Saya memiliki dua cerita yang kurang lebih mampu membantu kita memahami persoalan ini.

Pertama, Saya akan membahas band bernama Dream Theater, dimana karya-karya mereka memiliki kesamaan dengan omongan-omongan yang ‘ndakik’. Dream Theater ‘ndakik’ dengan komposisi lagu-lagunya, sementara orang-orang yang Saya bicarakan di atas ‘ndakik’ dengan tutur katanya.

Kedua, Saya akan membahas seorang penulis sekaligus filsuf dan pemerhati kebudayaan Indonesia bernama Yasraf Amir Piliang, dimana beberapa karya tulisnya bisa dikategorikan sebagai tulisan yang ‘ndakik’.

Mari kita bahas.

1. DREAM THEATER: BAND PROGRESSIVE METAL DENGAN KOMPOSISI YANG ‘NDAKIK’

Anda tahu band bernama DREAM THEATER?

Grup band dengan aliran progressive metal ini sangat terkenal. Sebagian orang mengenal DREAM THEATER melalui karyanya yang berjudul “Spirit Carries On”. Mereka berpendapat bahwa lagu tersebut merupakan lagu yang lebih ‘masuk di telinga’ diantara lagu-lagu DREAM THEATER lainnya. Maklum, DREAM THEATER lebih dikenal sebagai band dengan progresi-progresi akor dan ketukan yang jauh lebih rumit dibandingkan dengan lagu top 40 yang mudah dicerna oleh telinga selera pasar. Anda bisa mendengarkan contoh lagu lain yang rumit dari DREAM THEATER, “On The Backs of Angels”, misalnya.

Nah, Saya pernah mendengar tanggapan seorang teman atas lagu-lagu dari band sejenis DREAM THEATER;

“Untuk apa membuat lagu-lagu yang rumit dan skillfully kalau tidak bisa dipahami oleh orang lain?”

anonim, antah berantah

Bagaimana? Terdengar serupa dengan ungkapan pertama yang Saya kutip di awal sub-judul ini, ‘kan?

Tapi sebentar, kita kembali lagi ke DREAM THEATER.

Sebagaimana yang Saya sampaikan sebelumnya, lagu-lagu mereka kebanyakan memiliki progresi akor dan ketukan yang rumit.

Meskipun demikian, album mereka tetap laku dan konser mereka ditonton jutaan orang dari seluruh dunia. Pada 2009, album mereka yang bertajuk “Black Clouds and Silver Linings” menduduki posisi 6 dalam Billboard’s Top 200 Album Chart. Hanya dalam beberapa jam setelah dirilis, album itu mencapai angka penjualan sebanyak 40.285 dan terus bertambah. Pencapaian itu mereka peroleh meskipun telah berkarya selama 25 tahun, dan tidak banyak band seusia mereka yang mencapai posisi tersebut. Pada saat itu, mereka juga sedang menjalani tur Eropa dengan jumlah penonton lebih dari 80.000 orang per-venue.

Pada 2012, DREAM THEATER melakukan konser perdananya di Indonesia setelah 25 tahun berkarya.

Sejak sore jauh sebelum konser dimulai ratusan penonton sudah mulai memadati pintu gerbang. Dua jam kemudian, penonton membuat empat barisan sepanjang kurang lebih 100 meter dari dua sudut berbeda untuk mengantre masuk. Jumlah penonton yang kebanyakan mengenakan kaos hitam itu sudah mencapai ribuan orang”.

Sumber: Tempo https://seleb.tempo.co/read/398720/penggemar-antusias-tonton-konser-dream-theater/full&view=ok

Jikalau DREAM THEATER dipandang sebagai band dengan musik yang rumit dan tidak bisa dipahami oleh orang lain, mengapa ada dan bahkan banyak orang yang menyukai musik-musik, juga menonton konser mereka? Mengapa mereka memiliki deretan prestasi yang luar biasa?

Artinya, ada sebagian orang-orang yang menyukai musik mereka, sebagian lainnya barangkali mencoba memahami musik-musik mereka tanpa perlu menunjukkan sikap antipati.

DREAM THEATER terus berproses selama 25 tahun dengan deretan prestasi dunianya beserta antusiasme penggemar yang luar biasa, itu bukan hal yang percuma.

Susah dipahami bagi sebagian orang, belum tentu susah dipahami oleh orang lain.

Akan tetapi, Saya perlu mempertegas; meskipun ada yang susah memahami dan yang mudah memahami, ada orang-orang yang punya antusiasme untuk memahami.

Antusiasme !

Meskipun setiap orang bebas memiliki antusiasmenya masing-masing, upaya untuk mau memahami demi kebaikan bersama dalam konteks tulisan mengenai komunikasi ini patut diapresiasi.

2. YASRAF AMIR PILIANG DAN BUKU “NDAKIK”-NYA: BUKU YANG SEMESTINYA SAYA BACA KETIKA SAYA SUDAH “MAU” ATAU “SIAP”

Bagian ini tetaplah penting meskipun hanya akan Saya jabarkan sedikit.

Baik.

Sebagian orang mungkin belum mengenal Yasraf Amir Piliang.

Beliau adalah seorang filsuf, pemikir kebudayaan, akademisi, dan pengamat sosial asal Indonesia.

Perkenalan pertama Saya dengan pemikiran-pemikiran beliau ialah ketika Saya membaca salah satu karyanya yang berjudul Post-realitas: Realitas Kebudayaan di dalam Era Pos-metafisika. Buku tersebut diterbitkan pada tahun 2004, dan Saya baca pertama kali pada tahun 2008 ketika Saya berstatus mahasiswa semester 6.

Saya berani menjamin bahwa pembaca yang masih belum akrab dengan istilah-istilah ‘ndakik’ akan jauh lebih pusing ketika membaca karya-karya Yasraf. Pasalnya, menurut perspektif Saya istilah-istilah yang digunakan dalam buku tersebut jauh lebih ‘melangit’. Istilah-istilah yang digunakannya jarang bisa ditemukan dalam karya-karya ilmiah yang lazim ditemukan dalam ranah akademik. Namun solusi dari persoalan ini sebetulnya sudah terdapat pada halaman-halaman awal buku yang memuat glosarium (daftar definisi dari istilah-istilah yang terdapat di dalam buku terkait). Tantangan berikutnya ialah; Apakah pembaca berkenan untuk ‘tabah’ dalam membaca sekaligus mempelajari definisi dari istilah-istilah yang tertera untuk memahami buku secara keseluruhan?

Tak hanya istilah-istilah ‘ndakiknya’, bahkan Andapun harus teliti dalam menyimak keterkaitan antara kalimat yang satu dengan yang kalimat yang lain untuk bisa memahami maksud yang ingin disampaikannya.

Karena Saya kesulitan memahami jalan pikiran Yasraf pada saat itu, Sayapun kembali memasukkannya ke dalam rak buku.

Satu tahun kemudian, Saya kembali membacanya dan mampu memahami arti dari tulisan-tulisan beliau yang sebelumnya tidak Saya pahami. Barangkali, perkenalan-perkenalan Saya dengan pemikiran-pemikiran lain justru membantu Saya sedikit demi sedikit dalam memahami jalan pikiran yang ada di dalam buku Yasraf.

Singkat kata; untuk memahami suatu hal terkadang kita musti terlatih memahami hal-hal lain terlebih dahulu.

Belajar dari cerita Saya mengenai DREAM THEATER dan Yasraf Amir Piliang di atas, persoalannya di sini terletak pada bagaimana ungkapan ‘ndakik’, ‘melangit’, ‘percuma’, atau sejenisnya dilontarkan tanpa kesadaran bahwa mereka sebenarnya sedang mengalienasi(mengucilkan) orang lain. Padahal di luar diri mereka, masih ada orang yang bisa menerima jalan pikiran orang-orang yang ‘ndakik’.

“Yang normal itu yang membumi”.

“Yang normal itu yang tidak rumit serta mudah dicerna”.

Dari pengalaman Saya menghadapi buku Yasraf, ada dua kata yang perlu diingat terkait istilah ‘ndakik’, yaitu; “mau” atau “siap”. Entah pada saat itu juga atau di lain hari.

Maukah Anda terus mempelajari hal-hal yang belum Anda tahu? Sudah siapkah mindset Anda dalam menerima hal-hal baru yang belum Anda mengerti?

“OMONGANMU NDAKIK”: CATATAN PENUTUP

Sebagai penekanan;

Selama ini ungkapan ‘ndakik’ begitu terkenal dalam jagad ilmiah sebagai cibiran yang ditujukan kepada para akademisi dengan omongan-omongan yang susah dipahami, melangit, juga tidak membumi.

Ungkapan ini biasanya muncul dalam konteks keterlibatan perbincangan antara akademisi dengan orang yang tidak menempuh pendidikan di perguruan tinggi, namun pernah suatu ketika dalam pengalaman Saya ungkapan ini muncul dalam konteks perbincangan sesama mahasiswa, juga sesama alumni perguruan tinggi.

Dalam konteks perbincangan sesama orang yang menempuh pendidikan di universitas, ungkapan ini dilontarkan tanpa menyadari status dirinya sebagai mahasiswa, atau pernah menjadi mahasiswa.

‘Maha’ dan ‘Siswa’.

… sebuah predikat dimana di dalamnya melekat tanggung jawab serta kesediaan belajar terus-menerus.

Dalam konteks contoh struktur bicara yang ‘ndakik’, cerita-cerita Saya di atas sebetulnya bisa saja ditambah dengan cerita serupa lainnya, misal; ‘ditanya apa, jawab apa’, atau ‘jawabannya ngalor-ngidul’. Pada sebagian kasus, kedua ungkapan serupa tersebut ada tepatnya dilontarkan. Akan tetapi pada sebagian kasus lainnya, hal tersebut belum tentu tepat dan layak diungkapkan, sebab bisa saja terjadi karena bermula dari pertanyaan yang terlalu abstrak dan luas sehingga jawabannya juga akan melebar ke mana-mana.

Nah, terkait beragam rupa ungkapan di atas yang Saya paparkan, ungkapan-ungkapan tersebut biasanya terjadi karena kesalahpahaman.

Kesalahpahaman dalam hal ini bisa terjadi karena dua hal;

Pertama; karena memang salah satu pihak memaparkan gagasannya dengan struktur kalimat yang rumit atau tak teratur.

Kedua; karena memang salah satu pihak tidak memiliki referensi keilmuan yang luas. Referensi keilmuan ini bisa berupa penguasaan, pengetahuan, serta pemahaman atas kosakata-kosata ilmiah maupun kebiasaan menghadapi gaya pemaparan karya ilmiah atau tulisan yang berbeda.

Akan tetapi, kedua alasan tersebut semestinya tidak menghambat kita menyadari secara penuh bahwa kita bisa berupaya saling memahami apa yang sedang terjadi. Apalagi jika kita adalah seorang mahasiswa atau alumni dari sebuah perguruan tinggi. Ya, kita bisa bertanya.

Kita bisa saling memahami pemikiran setelahnya, kemudian mencari solusi bersama-sama.

Saya, misalnya.

Berdasarkan sebuah cerita yang sempat Saya paparkan di atas, Saya menanyakan istilah-istilah yang rumit bagi Saya. Saya justru tidak bersikap antipati terhadapnya.

Pada kesempatan lain ketika Saya berbicara dengan orang yang struktur kalimat atau cara penyampaiannya rumit dan tidak teratur, Saya juga menunggu kesempatan untuk berbicara untuk menanyakan;

“Sebentar, bolehkah Saya kembali menceritakan apa yang baru saja kau sampaikan berdasarkan pemahaman Saya?”

Kemudian Saya mulai bertanya berdasarkan rumus “5W+1H (Who, What, Why, Where, When, and How)” secara perlahan, sehingga lawan bicara merasa terbantu dan terlihat menyadari bahwa cara penyampaiannya perlu diperbaiki.

Siapa yang terlibat dalam peristiwa yang diceritakan? Apa masalahnya? Kenapa masalah tersebut terjadi? Di mana kejadiannya? Kapan terjadinya? Bagaimana bisa terjadi?

Sejauh ini, cara tersebut membuahkan hasil yang baik. Lawan bicara Saya merasa dimudahkan setelah Saya bantu menyusun kembali cara penyampaiannya. Bahkan seringkali kami dibuat tertawa setelahnya.

Menyenangkan.

Jika tidak tahu, tanyakan.

Jika penjabarannya berantakan, bantu.

Jika bisa, permudah.

Mempermudah tidak hanya berawal dari kita berusaha memilih kata-kata yang bisa dipahami orang lain semampu kita. Tetapi juga mempermudah orang lain menjabarkan pemikirannya ke dalam bentuk kata-kata dan kalimat. Pun, memberi ruang terlebih dahulu bagi orang lain, -apa adanya-,dalam menyampaikan maksud yang terkandung di dalam hati sebagaimana caranya.

Sampai di sini kita dapat mengetahui bahwasanya ‘ndakik’, beserta ungkapan lain seperti ‘rumit’, ‘ngalor-ngidul’, ‘susah dicerna’, ‘melangit’, ‘membumi’, bisa merupakan sebuah mispersepsi. Banyak orang menginginkan kemudahan tanpa didasari oleh pemahaman yang cukup baik mengenai kaidah atau substansi dari ‘kompleksitas’ dan ‘kesederhanaan’ itu sendiri.

Nah,

Mahasiswa, para alumni, apa yang sedang terjadi kepadamu?”

Regards,

Jinan Ramadhan


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *