Sony A6400 and Sony Lens 35mm f/1.8 for Documentary

Sony A6400 dan Sony Lens 35mm f/1.8 merupakan kombinasi gear yang Saya gunakan dalam sebuah project video documentary profesional terbaru. Selain keduanya, Saya juga menggunakan kombinasi antara Canon 600D dan Canon Lens 50mm f/1.8 untuk memotret di sela-sela pengambilan footage video. Saya mengalungkan kedua pasang gear tersebut pada leher Saya dalam sebuah gathering komunitas Perkawanan Perempuan Menulis usai rangkaian panjang seminar web mereka di akhir 2020. Inilah kisah singkat Saya menggunakan Sony A6400 untuk pertama kalinya sebagai One Man Band Professional Visual-Grapher.

Hello, my name is Jinan Ramadhan and thank you for reading my journal. I often take pictures of many people on single portrait, prewedding, and wedding. So many things that I can get from this activity. But in this article, I will tell my experience as One Man Band Professional Visual-Grapher, below. I hope the story can inspire readers, business people, especially photographers and videographers.

Setelah menyelesaikan peranan Saya sebagai konsultan sebuah visual project, Saya mendapatkan project dokumentasi gathering dari seorang klien pre-wedding. Gathering tersebut merupakan bagian dari program fasilitasi bidang kebudayaan yang disponsori oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dimana gathering itu menjadi puncak dari rangkaian panjang seminar web (webinar) bertajuk “Lokakarya Visual Penulisan Kreatif: Sejarah Lokal dari Perspektif Perempuan”. Webinar diadakan selama November-Desember 2020 dalam bentuk 7 kelas virtual dengan 10 pemateri yang kompeten di bidangnya; Manneke Budiman, Grace Laksana, Tita Salina, Mahfud Ikhwan, Intan Paramaditha, Erni Aladjai, Okky Madasari, Norman Erikson Pasaribu, Sabda Armandio Alif, dan Lily Farid.

Tugas Saya dalam project itu tidak hanya documenting gathering pada segi fotografi dan videografi, tetapi juga mengedit semua file audio-visual mentah berkapasitas besar dari 7 episode webinar. Saya sengaja membuat dua output dari project itu; satu output yang diserahkan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sementara satu yang lainnya Saya serahkan kepada perwakilan komunitas Perkawanan Perempuan Menulis.

Kedua output tersebut jelas berbeda dalam pengemasannya. Kementerian menerima format pengemasan dengan kaidah-kaidah video resmi. Segala hal maupun ucapan yang mengandung pendapat pribadi dari setiap orang yang terlibat dalam adegan-adegan video itu tidak Saya masukkan. Adapun yang Saya berikan kepada komunitas, merupakan video dengan sifat-sifat yang lebih longgar dan santai.

Pada akhirnya; baik seluruh footage, file Adobe Premiere Project, colored files dari DaVinci Resolves, juga kedua output dan proses final rendernya nyaris membuat Mac Pro Saya kolaps. Ini juga diakibatkan karena pengerjaannya bersamaan dengan pengerjaan project portfolio short movie pertama Saya; HAGIA GALATIA.

Gears

Pada waktu itu Saya ingin memberikan hasil yang terbaik untuk klien Saya dan teman-teman komunitasnya. Keinginan itu dilandasi oleh beberapa hal;

Pertama; ada wacana bahwa gathering akan diadakan di outdoor pada sebuah penginapan di Kaliurang. Itu berarti kemungkinan 50% dokumentasi dilakukan di dalam ruangan, dan 50% sisanya di luar ruangan. Permasalahannya, Saya tidak tahu seberapa banyak intensitas cahaya yang ada di lokasi, sementara di sisi lain Saya hanya memiliki sumber daya terbatas berupa Canon 600D dan lensa Canon 50mm f/1.8. Setidaknya Saya membutuhkan kamera yang bisa mengantisipasi persoalan low light dengan noise seminim mungkin.

Kedua; Saya bisa saja menggunakan teknik handheld menggunakan Canon 600D serta manual focus dalam proses dokumentasi video. Namun, dalam skala profesional -apalagi bersangkutan dengan Kementerian-, Saya ingin meminimalisir kemungkinan hasil pengambilan gambar yang shaky serta fokus yang kurang responsif.

Ketiga; Saya ingin mengeksplorasi lebih jauh terkait dengan output color grading, dimana hal ini hanya bisa Saya lakukan secara lebih baik dengan kamera hi-end.

Mau tak mau Saya harus menyewa gears sesuai dengan ketiga pertimbangan di atas; body kamera, lensa, battery cadangan, dan kemungkinan juga stabilizer.

Pilihan pertama jatuh pada body Sony A7 mark II, namun masih belum memiliki feature touch screen, terutama ketika menentukan focus pada titik manapun yang user inginkan hanya dengan menyentuh LCD screen. Jadi, Saya menentukan pilihan akhir pada Sony A6400, juga lensa fix Sony dengan bukaan (f) sebesar 1.8. Saya tidak menyewa stabilizer, karena Saya berpikir; mungkin ada serunya membuat karya dokumentasi yang pergerakan kameranya tidak terlalu ‘halus’ seperti menggunakan Camcorder (camera recorder).

Mungkin ada sebagian pembaca yang akan bertanya; “Sony A6400 sudah dirilis sejak lama. Namun mengapa baru mencobanya sekarang?”

Jawaban Saya;“Karena baru pada project ini Saya membutuhkan spesifikasi yang dimiliki oleh Sony A6400”.

The Day

Saya sudah memesan gears jauh-jauh hari. Tiada jaminan gears tersedia mendekati hari-H. Mungkin teman-teman sudah mengetahui kecenderungan alat-alat persewaan. Pengalaman lapangan menunjukkan bahwa menyewa perlengkapan fotografi dan videografi sangat sulit. Kadangkala Saya dibuat kewalahan karena perlengkapan yang ingin Saya sewa ternyata sudah disewa oleh para penyewa lain. Jasa persewaan memang tidak hanya satu di kota Saya. Tapi Saya pernah mencari kemanapun dan perlengkapan sudah tidak tersedia. Memiliki alat sendiri sebagai aset akan menjadi investasi baik di masa depan.

Saya bersepakat dengan klien bahwa Saya akan tiba di lokasi pada pkl 10.00. Dokumentasi foto dan video dilakukan selama kira-kira 2-3 jam di Omah Ucok, Kaliurang.

Begitu tiba di lokasi, memarkir motor, kemudian melepas jas hujan, Saya melihat keadaan sekitar. Ambience menenangkan membuat Saya berkhayal betapa menyenangkan jika suatu saat Saya menginap di tempat itu. Bahkan, boleh jadi karena gaya bangunan dan perpaduan warnanya yang indah, banyak fotografer dan videografer yang tertarik menjadikannya sebagai lokasi pengambilan gambar.

Saya menyapa penjaga penginapan ketika menginjakkan kaki di teras penginapan. Setelah memasuki ruangan depan, Saya mempersiapkan alat-alat dan menyapa sebagian dari anggota komunitas yang kebetulan sedang sarapan di ruangan itu. Kami bertegur sapa dan berbincang sejenak, kemudian bersepakat untuk segera memulai proses dokumentasi dimulai dari orang-orang yang sudah siap terlebih dahulu.

Sebagaimana yang sempat Saya paparkan, Saya menggunakan Canon 600D+Canon Lens 50mm f/1.8 untuk memotret, dan Sony A6400+Sony Lens 35mm f/1.8 untuk syuting dokumentasi. Saya mengalungkan kedua pasang kombinasi gears tersebut supaya bisa menggunakannya secara bergantian hingga acara selesai. Sebagai catatan, Saya juga menggunakan Canon 600D untuk merekam video dari angle lain.

Sony A6400: Amazing Performance

Berdasarkan pengalaman pertama menggunakan Sony A6400, Saya memperoleh tiga kesimpulan awal mengenai keunggulan-keunggulannya;

Pertama; karena kebutuhan Saya adalah menghadirkan output dengan kesan handheld camcoder, teknik handheld sudah cukup apabila digunakan dalam memegang body Sony A6400. Body tidak terlalu kecil, juga tidak terlalu besar. Oleh karenanya, proses pengambilan footage Saya terbantu. Bahkan bisa dikatakan nyaris tanpa shaky sama sekali.

Kedua; keterbatasan titik fokus yang Saya alami ketika menggunakan kamera-kamera yang biasa Saya gunakan membuat Saya tertarik melirik keunggulan kamera lain. Sony Alpha, salah satunya. Kamera Sony A6400 memiliki deteksi focus 425 titik yang terdistribusi padat di LCD screen. Sony claims that focus detection is spread over about 84% of the image area. Features titik fokus ini juga hadir dalam bentuk touch screen focus, dan touch tracking. Jadi, users hanya perlu menyentuh LCD screen untuk menentukan fokus yang diinginkan.

Ketiga; S-Log. Ada beberapa aspek yang biasanya Saya unggulkan untuk karakteristik sebagai visual-grapher kepada para klien, satu diantaranya adalah color tone. Tentu saja; tanpa karakteristik, apa yang bisa kamu jual sebagai keunggulanmu? S-Log setting menawarkan kepada Saya hasil footage yang betul-betul RAW (mentah) tanpa membuat Saya merasa khawatir merusak warna secara signifikan dengan menggeser sedikit slide setting warna. Sebagai catatan; Saya menggunakan DaVinci Resolve untuk melakukan coloring.

Sebatas kemampuan Saya, itulah yang bisa Saya sampaikan mengenai pengalaman menggunakan Sony A6400 dan Sony Lens 35mm f/1.8. Output videonya bisa pembaca saksikan di sini.

Salam,

Jinan Ramadhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *