Wedding Photography dan Kepergian Ibu

Wedding Photography dan Kepergian Ibu memiliki kaitan yang erat. Wedding photography merupakan divisi fotografi yang mengabadikan moment pernikahan. Adapun “Ibu” yang Saya maksud di sini ialah Ibu mertua Saya. Pendek kata; dalam tulisan ini Saya ingin bercerita tentang penyesalan Saya atas tidak adanya kenangan yang Saya miliki bersama Ibu mertua dalam bentuk foto. Saya semakin menyadari akan “pentingnya moment” justru dari penyesalan tersebut dan sepenggal kisah sederhana mengenai betapa “pentingnya moment dalam wedding photography”.

Hello, my name is Jinan Ramadhan and thank you for reading my journal. I often take pictures of many people on single portrait, prewedding, and wedding. So many things that I can get from this activity. But in this article, I will tell my thought about photography and memories, below. Inspired from wedding photography and the death of my mother-in-law. I hope the story can inspire readers, business people, especially photographers and videographers.

WEDDING PHOTOGRAPHY: PENTINGNYA MENGABADIKAN MOMENT

“Gimana, Nan? Kamu jadi pergi ke Solo?”, tanya seorang kawan.

“Tidak”, jawab Saya.

“Lho, kenapa?”, tanyanya heran.

“Klien bimbang memutuskan. Kemudian, mereka bilang bahwa mereka tidak jadi menggunakan jasa fotografi untuk pernikahan mereka. Pada saat yang sama, aku harus lekas mengambil kesempatan memotret wedding lain“, jawab Saya.

“Wah, sayang banget mereka nggak jadi pakai jasa wedding photography-mu. Mereka kehilangan kesempatan untuk mengabadikan momen sekali seumur hidup.. Smartphone bisa menggantikan fotografer, tetapi tidak dengan cara melihat atau framingnya.. Dan itu tak’kan terulang kembali”, pungkas teman Saya.

“Hahaha.. Benar juga”, Saya terkekeh dan menyudahi sesi chat.

Pada waktu itu, kata-kata teman Saya terdengar klise. Sebab, banyak sekali yang mengatakan bahwa kamera mampu mengabadikan moment sekali seumur hidup. Nilainya tak tergantikan, apalagi jika diambil menggunakan alat-alat dan perspektif fotografi seorang fotografer. Saya sepakat, sebab memang demikianlah adanya.

Begini; saat resepsi pernikahan berlangsung, orang-orang pada umumnya kini bisa saja menggunakan smartphone untuk mengambil foto keluarga besar maupun bersama teman-teman dan kolega di pelaminan dalam format vertikal maupun horizontal. Akan tetapi, tiada yang bisa menandingi bagaimana seorang fotografer beserta alat-alatnya mampu menangkap momen sekaligus ragam ekspresi dalam kesempatan apapun, khususnya dalam pernikahan.

Pernahkah Anda melihat hasil foto candid yang menunjukkan detail raut wajah kedua pengantin saat resepsi melalui hasil kamera smartphone? Atau; pernahkah Anda melihat detail hasil foto mempelai perempuan menangis terharu berpelukan dengan ayahnya yang diambil menggunakan kamera smartphone? Pernahkah Anda melihat kedua contoh foto tersebut beserta jenis foto pernikahan lain yang diambil melalui kamera smartphone menggunakan teknik framing yang baik? Terakhir; Adakah pengguna kamera smartphone dalam resepsi pernikahan yang memusatkan perhatian kepada ekspresi kedua orangtua masing-masing mempelai?

Tidak ada, ‘kan? Kalaupun ada, itu bisa dikatakan jarang. Sebagian besar output foto smartphone dalam wedding ya itu-itu saja; berformat horizontal atau vertikal, diambil di depan pelaminan. Lagipula; apakah hasilnya artsy, classy, dan memberi pengaruh emosional secara signifikan ketika Anda melihatnya?

Saya tidak sedang mengatakan bahwa aktivitas menggunakan smartphone dalam resepsi pernikahan sepenuhnya merupakan hal yang buruk, meskipun tidak memungkiri bahwa memang ada sebagian attitude pengguna smartphone yang menghalangi fotografer untuk memenuhi tanggung jawabnya. Saya sekadar memaparkan alasan mengapa Saya mengamini pernyataan teman Saya. Point terpenting di sini ialah; betapa banyak moment dalam kehidupan kita hanya terjadi sekali saja, termasuk detail moment yang terlewat dari keterbatasan pandangan kita. Sebagai tambahan, ketika Saya mengetik kalimat sebelumnya, Saya menyadari hal ini; “… sementara kapasitas ingatan kita terbatas”.

“… termasuk detail moment yang terlewat dari keterbatasan pandangan kita… Sementara kapasitas ingatan kita terbatas”.

{Jinan Ramadhan, 2021}

Hal itulah yang membuat fotografi menjadi penting. Benar-benar penting.

KEPERGIAN IBU

Kini, Saya ingin bercerita tentang Ibu mertua Saya.

Ibu mertua Saya wafat pada pertengahan 2020. Hal yang baru terpikirkan tak berapa lama setelah itu ialah; kami tak memiliki kenangan bersama dalam wujud foto.

Moment kebersamaan terakhir yang berhubungan dengan aktivitas memotret adalah saat perayaan kecil-kecilan ulang tahun Saya tatkala petang pada bulan Mei. Waktu itu Saya dan Istri berkunjung ke rumah Ibu mertua. Sebetulnya Saya sudah mengira bahwa kedatangan kami di sana pasti ada maksudnya. Benar saja, Ibu dan Istri Saya telah mempersiapkan kue tart buatan mereka.

cake tart buatan ibu
Satu-satunya foto dari smartphone Ibu pada hari ulang tahun Saya.

Saya hanya senyum-senyum saja sembari memandangi kue tart dan beberapa hidangan lain yang disajikan di atas meja. Istri Saya mengatakan bahwa proses pembuatan kue tart ini juga dibantu oleh Ibu sembari berujar; “Aku membuat kue tart ini untuk menantuku”. Saya tersenyum tipis. Tidak lebar, juga tidak tertawa. Syukur selalu punya porsi, Saya simpan dalam hati. Setelah Saya mendaras doa dan meniup lilin di atas tart, Adik ipar datang dan turut mengucapkan selamat beserta segala pengharapannya. Saya mengamini.

Saya menyaksikan betapa antusias Ibu memotret setiap hidangan terutama kue tart dengan smartphone-nya. Ibu bilang, bahwa Ia ingin memotret Saya beserta kue tart. Namun Saya menolak, sebab Saya merasa tidak rupawan. Saya tahu bahwasanya Ibu akan membagikan foto itu ke grup Whatsapp keluarganya. Jadi hanya ada beberapa foto yang beliau ambil, itupun blur dan kurang fokus. Salah satu foto terbaik Ibu Saya simpan dan Anda telah melihatnya di atas.

Dua bulan kemudian, beliau wafat karena sakit.

Saya sempat tinggal di rumah mertua menemani Istri Saya, selama beliau sakit dan 40 hari setelah beliau wafat.

Rasanya janggal mengetahui bahwa ketika terbangun setiap pagi, Ibu tak lagi ada.

Pada masa-masa setelah kepergiannya, Saya merawat kebun dan tanaman-tanaman Ibu. Setiap pagi sebelum matahari meninggi dan sore setelah terik tak lagi membakar, Saya menyiraminya. Tanah dalam pot dan dedaunan beserta bunga Saya anggap sebagai bocah-bocah yang teramat membutuhkan rasa segar karena air. Tiap pot mereka Saya siram, pun dedaunan Saya guyur. Saya bersetia melimpahkan air kepada mereka. Rintangan membawa ember dari tempat kran mengisi air menuju ke sudut-sudut yang sulit terjamah tetap Saya jalani setiap harinya.

Terkadang Saya lelah, namun segera Saya anggap itu ibadah. Tak hanya untuk almarhum ibu, tetapi juga melatih integritas diri dalam menerima sesuatu yang mau tak mau harus dijalani. Ini bukan hanya berkaitan dengan Ibu dan alam, lebih dari itu; mengenai perjalanan kemanusiaan Saya semasa hidup.

“Sumeleh”, orang Jawa bilang. Berserah.

Malam-malam berulang kali diganti dengan pagi. Saya seakan-akan melihat Ibu datang dan pergi dari sudut yang satu ke sudut yang lain dalam rumah itu. Saya sadar betul, Sayalah yang menciptakan sosok Ibu setiap waktu. Mengingat-ingat kebersamaan yang pernah terjadi dengan beliau, termasuk ketika kami berbincang sembari minum teh hangat dan menonton televisi. Saya kerapkali berupaya menyembunyikan air mata Saya dari Istri dan Adik ipar setiap kali teringat Ibu. Apalagi jauh dalam lubuk hati, hingga kini Saya merasa bahwa Saya belum bisa menjadi menantu yang baik bagi beliau. Saya pikir, kenangan dan penyesalan tersebut mengendap.

Lama waktu berselang, ketika melihat foto kue tart, Saya dan Istri baru menyadari bahwa kami tak memiliki kenangan bersama Ibu dalam wujud foto. Saya menyesal. Kita tentu tahu bahwa waktu tak dapat diputar kembali. Apa lagi yang bisa dilakukan? Saya pikir menjadi manusia yang lebih baik dengan meneladani sifat-sikap Ibu merupakan salah satu jawaban utamanya.

EPILOG

Sebagian orang mengatakan bahwa kenangan tak perlu berasal dari benda-benda yang ada di sekeliling kita, khususnya hasil foto dalam format digital maupun cetak. Akan tetapi, dalam konteks foto, rupanya pernyataan tersebut tidak berlaku bagi Saya. Mungkin bagi banyak orang lain juga demikian. Alasannya karena betapa banyak moment dalam kehidupan kita hanya terjadi sekali saja, termasuk detail moment yang terlewat dari keterbatasan pandangan kita. Sementara kapasitas ingatan kita terbatas. Hanya dengan melihat kembali melalui foto-lah, kita dapat mengenang.

Fotografi dan kenangan terasa benar-benar saling bertaut. Sebuah kamera analog atau digital dapat menghasilkan selembar foto cetak atau sebuah file foto digital yang kelak bisa kita lihat dan kenang-kenang. Smartphone juga demikian, sebagai cara sederhana mengabadikan kebersamaan, meskipun memiliki keterbatasan teknis dalam konteks-konteks seperti wedding ceremonial. Bagaimanapun juga, apapun kelebihan dan kekurangan pirantinya semua bermuara kepada satu hal; kita merayakan pengabadian moment bersama-sama. Sebisa mungkin janganlah melewatkan kesempatan ini.

Akhir-akhir ini terkadang Saya mengajak Istri Saya melakukan we-fie. Saya memotret diri Saya dengan Istri menggunakan smartphone Saya.

“Kenapa Mas? Kok tumben we-fie”, tanya Istri Saya.

“Nggak apa-apa, pengen aja”, jawab Saya sembari tersenyum simpul.

2 Replies to “Wedding Photography dan Kepergian Ibu”

  1. Ariesta Wibisono Anditya

    Turut berduka sekaligus memberi semangat kepada teman saya yang luar biasa. Tulisannya menggugah dan memberi wawasan. Menggambarkan kehidupan yang sederhana dengan frasa frasa yang sastrawi. Terima kasih. Terus semangat untuk kita!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *