Zona Nyaman: The Myth About The Comfort Zone

People look through windows

Zona nyaman pada umumnya dimaknai sebagai situasi dan kondisi yang membuat seseorang terlena untuk tidak bergerak melangkah pergi dari hal-hal yang membuat seorang individu tidak berkembang. Banyak contoh kasus yang oleh orang-orang dikategorikan sebagai zona nyaman; hubungan tanpa status dan arah, pekerjaan yang tidak sesuai dengan minat asalkan dapat uang, pekerjaan kantor penuh rutinitas yang mendatangkan kelimpahan materi tetapi membuat orang merasa tertekan oleh deadline dan temperamen atasan sehingga merasa hidupnya begitu-begitu saja. Ini gambaran mengenai zona nyaman secara umum, kata orang-orang.

Namun konsep zona nyaman ini juga kerap disalahartikan. Dalam kasus-kasus tertentu, pemaknaan zona nyaman telah bergeser dari makna awalnya. Saya punya cerita yang kurang lebih bisa menggambarkan hal ini.

Hello, my name is Jinan Ramadhan and thank you for reading my journal. I often take pictures of many people on single portrait, prewedding, and wedding. So many things that I can get from this activity. But in this article, I will tell The Myth About The Comfort Zone, below. I know this journal doesn’t seem to have anything relations with photography. But, of course this article has relations with creative workers paradigm like me, and you. I hope the story about this topic can be an inspiration for readers, especially photographers.

Perburuan

Seorang pemburu hewan tersohor sedang ingin melakukan perburuan spektakuler. George, namanya. Jauh-jauh hari ia telah merencanakan segalanya. Kali ini, ia ingin lebih menantang dirinya sendiri. Ia membawa sebuah senapan laras panjang, sebuah pistol, sebilah pisau tajam, lengkap dengan kostum berburunya. Kalau biasanya ia membawa seorang kru yang bisa menyelamatkannya sewaktu-waktu dalam keadaan kritis, kali ini tidak. Ia berniat pergi sendiri, ditemani oleh seorang pemburu dari suku setempat sebagai penunjuk jalan menuju lokasi-lokasi perburuan paling menantang yang tak pernah ia jelajahi sebelumnya.

George mengajak Si Pemburu Lokal berbincang sembari berjalan-jalan menjelajah lokasi perburuan. Mereka sampai pada pembicaraan mengenai ‘cawat’, sepotong kain yang digunakan Si Pemburu Lokal sebagai celana setiap kali ia berburu. Ya, hanya cawatlah yang dikenakan oleh Si Pemburu Lokal.

George; “Hei, Anda tampak terbelakang dan primitif dengan cawat itu”.

Si Pemburu Lokal hanya tersenyum sembari memperhatikan George dengan seksama, sesekali memperhatikan jalan yang dilaluinya.

George; “Kau tahu, pakaianku ini merupakan simbol bagi orang modern. Ya, aku pemburu modern. Aku maju dan berperadaban”, tambah George.

George; “Apa sih, alasanmu mengenakan cawat itu.. Hei ! Bahkan senjatamu sama sekali tidak canggih! Lihatlah persenjataanku! Inilah teknologi!”

Si Pemburu Lokal; “Aku nyaman menggunakan cawat ini setiap kali aku sedang melakukan perburuan”, responnya sembari tetap memperhatikan jalan. Kali ini ekspresinya terlihat lebih waspada, meskipun senyum tipis tetap terlihat dari wajahnya.

George mendengus.

George; “Nyaman apanya?”, bisik George berbicara pada dirinya sendiri.

George; “Cobalah keluar dari zona nyamanmu ! Jangan terlena hanya karena sebuah cawat membuatmu nyaman !”

Si Pemburu Lokal; “Berhenti”.

Tiba-tiba Si Pemburu Lokal memberi isyarat melalui tangannya kepada George. Datar dan lirih, tetapi suaranya tetap terdengar jelas.

George; “Ada apa?”

Si Pemburu Lokal; “Kau dengar suara?”

George; “Suara? Suara apa? Aku tidak..”

Belum selesai George berbicara, seekor singa muncul dari balik semak-semak menuju ke arah George. Singa itu melompat, mengaum, melayangkan cakarnya ke arah George !

George; “Gila !!”, seru George menghindar.

George lekas berlari ke arah Si Pemburu Lokal, tergopoh-gopoh membawa persenjataannya.

George; “Nyaris saja Ia mencabikku !”

Si Pemburu Lokal; “Ayo lari lebih kencang ! Singa itu berbahaya !”

George; “Hei, biarkan aku menembaknya !”

Si Pemburu Lokal; “Terlalu dekat ! Kau bahkan sudah ‘tamat’ saat kau berhenti untuk mempersiapkan senapanmu !”

Gubraaakk !!

George; “Sial !”

George tersandung. Ia segera bangkit kemudian kembali berlari. Kali ini Ia meninggalkan senapannya. Terlalu berat. Rompi dimana George menyimpan persediaan peluru bahkan ditinggalkannya. Hanya sepucuk pistol dan pisau yang tersisa. Sembari berlari, George mengambil pistol dan mengarahkannya ke singa itu. Ia mengokang, menarik pelatuk, dan..

Doorrrr !!

Meleset. Singa itu kini bahkan semakin dekat.

George; “Keparat !!”, umpatnya sembari terus berlari memperhatikan jalan di depannya.

Si Pemburu Lokal; “Ke arah sungai! Kita harus menyeberangi sungai!”, serunya sembari menunjuk sungai sembari berlari dan sesekali menengok ke arah George.

George; “Bisakah ia menyusul kita ke seberang sungai?!!”

Si Pemburu Lokal; “Aku harap tidak !!”

Singa itu lebih cepat daripada yang dibayangkan ! Mereka berdua berlari sebisa mungkin. George mulai tersengal-sengal. Ia mulai tampak kehabisan stamina.

Si Pemburu Lokal; “Minimal sungai memperlambat singa itu!”

George; “Ya! Tolong… ! Selamatkan aku!”, seru George.

Mereka sampai di tepi sungai, dan sesegera mungkin masuk untuk menyeberanginya. Dengan cekatan Si Pemburu Lokal menyeberangi sungai, disusul oleh George yang tampaknya kesulitan untuk bergerak menjejakkan kakinya di tepi sungai yang berlumpur.

Grrrrhh.. !!!

Sang Singa melayangkan cakarnya sembari mengaum. Geliginya terlihat runcing, tajam, dan tentu saja itu berbahaya. Bagian belakang pakaian George robek ! Nyaris saja ! George telah masuk ke sungai dan sempat terperosok. Ia kemudian jatuh terbenam, namun kembali mencoba bangkit dan menyusul Si Pemburu Lokal. Sembari tersedak-sedak karena mulutnya kemasukan air, ia sesekali menoleh ke arah belakang untuk memastikan Sang Singa tak menyusulnya.

Ya, singa itu memang tak menyusul mereka. Mereka sampai di seberang dan segera menjauhi tepi sungai mencari tempat yang lebih aman untuk berlindung.

Si Pemburu Lokal; “Kau tampak kesulitan menyeberangi sungai. Pakaianmu mempersulitmu”.

George; “Ya, berat sekali bergerak menyeberangi sungai dengan pakaian ini !”, kata George terengah-engah.

Si Pemburu Lokal terus berdiri mengawasi sekeliling. Napasnya jauh lebih cepat kembali stabil dibandingkan George.

Si Pemburu Lokal; “Aku belum sempat memperkenalkan namaku”, tersenyum menggenggam busur panah yang ditancapkannya ke tanah.

George; “Hh.. Hhh.. Ya.. Siapa?”, tanya George tersengal menyipit menatap Si Pemburu Lokal. Peluh membasahi pelipis dan alis matanya.

Si Pemburu Lokal; “Kanye’e. Kanye’e Salao. Aku seorang ‘Masai’ di sukuku. Istilah untuk menyebut para ksatria pemburu”, jawabnya tersenyum.

Zona Nyaman dan Substansi

A cup of espresso above the table

Kisah perburuan di atas menunjukkan kepada kita bahwa terkadang pemahaman atas konsep zona nyaman dibangun atas dasar premis yang keliru. Sesuatu tidak bisa semena-mena disebut sebagai zona nyaman hanya karena itu merupakan cara yang dipahami. Alih-alih menggunakan cara George, sesuatu itu merupakan yang terbaik bagi Kanye’e.

Dunia mengandung persoalan yang heterogen, dari orang ke orang, dari satu tempat ke tempat lain, dan dari peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lainnya.

Kanye’e tak hanya memahami dirinya sendiri, tetapi juga lingkungannya. Ia menerapkan sesuatu yang ia ketahui dan pahami, bukan menggunakan cara sebaliknya. Cara yang dipahami justru cepat membawa seseorang untuk sampai ke suatu tujuan. Cawat Kanye’e adalah penyelamat. Busur meringankan geraknya. Ini jauh lebih baik jika dibandingkan dengan cara banting setir dan menggunakan cara serta menjejaki wilayah yang sama sekali baru. Ia menggunakan cara yang dipahami dalam lingkungan yang tepat.

George pun juga menggunakan cara yang ia ketahui. Sialnya, ia tidak memahami lingkungan perburuan pada kesempatan kali ini. Ia pikir dunia sama saja; berpakaian dan berteknologi canggih sama dengan berperadaban, sementara bercawat dan berbusur panah adalah ‘bi-adab’ dan primitif.

Kanye’e Salao tidak sedang terlena dalam zona nyamannya.

Kamu juga, ‘kan?

Regards,

Jinan Ramadhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *